blog-nya orang yang males nulis

Author Archives: It's me :)

Tulisan ini sekedar nyatet apa yang baru aja terlintas di kepala tentang kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di waktu dekat.

1. Perencanaan dan penyusunan kegiatan penelitian

Ada beberapa kali terlontar pernyataan pembesar2 di Kominfo, kalau hasil-hasil penelitian belum memenuhi apa yang diharapkan. Boleh jadi hal itu dikarenakan hasil-hasil penelitian selama ini: (1) tema yang tidak/belum sejalan dengan tupoksi Kominfo (tema yang remeh-temeh mungkin); (2) Hasil penelitian masih berada di permukaan, artinya belum memberikan hasil yang mendalam; (3) dll..

Penelitian itu adalah sebuah proses, mulai dari menentukan dan merumuskan masalah penelitian, sampai pada penyusunan laporan akhir penelitian. Dus, penelitian yang baik itu dicapai dengan melaksanakan setiap prosesnya dengan baik. Nah dari sini, ada yang terlintas di pikiran saya untuk membuat pendekatan baru dalam merancang, melaksanakan, dan menyelesaikan penelitian di lingkungan Badan Litbang.

Ada dua hal yang penting untuk dilaksanakan:

Pertama, menyusun perencanaan penelitian dalam beberapa fase.
Kedua, pendampingan secara intensif oleh narasumber/ahli & kominfo.

Contoh fase:
Fase 1: Brainstorming identifikasi masalah yg dikumpulkan dari seluruh peneliti/satker, via platform online, atau melalui rapat2 atau diskusi yang dilakukan per satker, dan dilakukan di tahun sebelum pelaksanaan penelitian. Masa: 1 bulan (Mis. September – Oktober)
Fase 2: Pemilihan tema penelitian yang dianggap potensial, oleh decision maker (kabadan dkk)
Fase 3: Pendalaman tema, dengan mengundang peneliti ybs bersama dng stakeholder kominfo (ditjen terkait tema) untuk diskusi lebih mendalam tentang penentuan metodologi, dan gambaran hasil/rekomendasi yang diharapkan. Tahap ini pula final decision penelitian mana yang disetujui untuk dilaksanakan.
Fase 4: Pembahasan dan pendampingan secara intensif bersama narasumber/ahli & stakeholder Kominfo, sekaligus pembuatan desain penelitian/proposal
Fase 5: Pengumpulan data, masih dengan supervisi narasumber/ahli & stakeholder
Fase 6: Penyusunan laporan dan publikasi

 

2. Event Ilmiah

“Ide brilian jika tidak dikomunikasikan sama aja boong”

Setelah proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian yang laksanakan dengan baik, maka diharapkan adanya hasil penelitian yang berkualitas. Hasil penelitian tersebut selayaknya didiseminasikan dan benar-benar didengar oleh pengambil keputusan.

Sekarang ini memang sudah ada event ilmiah yang sudah berjalan, misal seminar-seminar hasil penelitian yang dilaksanakan oleh satker, atau temu ilmiah nasional peneliti yang digelar setiap tahun. Lalu apakah hasil dan rekomendasi penelitian ini sampai ke tangan decision maker? itu yang jadi pertanyaan.

Nah oleh karena itu, perlu ada event ilmiah yang benar-benar terselenggara dengan berkualitas, tidak cukup hanya baik. Judul event-nya ya boleh aja sama dengan sebelumnya, misal “Temu Ilmiah Nasional Peneliti Kominfo”, tapi ada beberapa hal perlu diperhatikan:

  • Event ilmiah ini HARUS dihadiri oleh pengambil kebijakan, misal: Menteri atau Eselon 1.
  • Makalah yang disajikan harus memenuhi kualifikasi, yaitu pada aspek problem statement, metodologi, hasil, dan rekomendasi. Hal ini hanya bisa dicapai bila proses penelitian dilaksanakan seperti usulan nomor 1 di atas.
  • Makalah ini juga telah melewati review oleh beberapa ahli/narasumber.

Saya optimis jika proses penelitian dilaksanakan dengan langkah-langkah tersebut di atas akan memberikan hasil penelitian yang berkualitas juga.

 

3. Sosialisasi Internet sehat ke sekolah-sekolah

Sebenarnya ini ide kegiatan untuk satker, karena sekolah-sekolah rasanya lebih cocok di-handle oleh satker setempat dibandingkan kalau harus dikerjakan oleh Pusat. Lagipula kan lumayan nambah-nambah kegiatan satker :)

Pemikiran ini dilandaskan mengingat pengguna internet saat ini didominasi oleh orang-orang muda yang notabene masih pelajar, yaitu SMP dan SMA. Kita juga bisa lihat begitu banyak kasus-kasus video negatif yang subjek dan objek nya adalah anak-anak pelajar, sehingga kalangan pelajar sangat tepat untuk menjadi sasaran sosialisasi internet sehat ini.

Untuk materi sosialisasi, rasanya cukup banyak di internet. Data-data dari pemberitaan kasus-kasus negatif baik di portal berita maupun di media sosial cukup bisa menjadi latar belakang untuk disampaikan. Atau boleh juga bekerja sama dengan Relawan TIK, karena mereka juga pernah memberikan materi internet sehat.

 

 


Kita tentu sering melihat, orang tua yang mencintai anaknya sedemikian besarnya, meski si anak tidak berparas cantik, atau tidak berkulit mulus. Bahkan banyak orang tua yang juga tidak kalah besar cintanya kepada anaknya meskipun anaknya terlahir dengan fisik yang tidak sempurna. Hal itu dikarenakan orang tua tersebut dapat memahami bahwa dia sungguh tidak punya pilihan selain mencintai anaknya apa adanya. Dia memahami betul bahwa anak tersebut dipilih Tuhan untuk menjadi anaknya, sehingga dia harus menerima apapun kondisinya.

Sepatutnya demikian pula dua orang yang sedang menyatukan jiwanya dalam rumah tangga, suami kepada istri, dan istri kepada suami. Seandainya saja mereka memahami dengan sungguh-sungguh bahwa istrinya atau suaminya bukanlah pilihan mereka sendiri melainkan pilihan Tuhan kepada mereka, persis seperti orang tua yang memahami bahwa anaknya adalah pilihan Tuhannya, maka pastinya tidak akan ada laki-laki yang “terpaksa” mencintai istrinya, atau perempuan yang “terpaksa” mencintai suaminya.

Cinta sejati adalah cinta orang tua kepada anaknya, dan itu tidak lain adalah: penerimaan yang sesungguhnya. :)

Jogja, 12-08-2015


Keluarga dan rumah tangga tidak bisa dipungkiri penuh dinamika yang menuntut kesiapan mental dan spiritual. Apalagi jika kita mempertimbangkan pengaruh zaman yang berkembang saat ini. Sala satu dari sekian banyak dinamika keluarga dan rumah tangga adalah perceraian, dengan berbagai macam faktor dan penyebab kita harus prihatin dengan masih tingginya angka perceraian di Indonesia.
-(republika.co.id, 17 agustus 2013).

Dalam maraknya kasus perceraian di negeri ini, perhatian kita seringkali tertuju pada fukos yang salah. Kita lebih sering membahas penyebab daripada akibat, seperti masalah ketidakcocokan, KDRT, perselingkuhan, dan keterbatasan ekonomi. Kita abai terhadap akibat dari perceraian itu sendiri, yaitu persoalan anak.

Stigma Anak Broken Home

Bentukan sosial di sekitar kita telah menempatkan anak dari keluarga yang orang tuanya telah bercerai (brokenhome) dalam posisi yang sulit. Anak dengan luka psikologis karena perceraian orang tua mereka sering distigma dengan cap nakal, kalaupun sang anak belum melakukan kenakalan apapun, stigma itu tetap ada dengan sedikit perubahan yaitu “anak berpotensi nakal”.

Stigma ini sendiri juga sejatinya tidak memiliki dasar yang jelas, semata-mata hanya lahir dari prejudice bahwa keluarga yang tidak utuh tidak akan mampu mendidik anaknya secara baik, sehingga membuat si anak menjadi nakal atau berpotensi nakal. Stigma dan kondisi keluarga yang terpecah ini seolah menekan anak, baik sadar maupun tidak, untuk menjadi nakal.

Anak seolah tidak punya tempat “kembali” ketika ia justru distigma saat mencari “jawaban” diluar keluarga inti yang tidak memberi kejelasan terhadap kegundahaan psikologisnya.

Konflik yang Meluas

Ketika konflik perceraian antara suami-istri ini meluas kedalam keluarga besar masing-masing, sang anak dengan segala keterbatasannya akan semakin kebingungan melihat pertikaian dua kubu ini. Apalagi jika ada salah satu anggota keluarga dari salah satu pihak yang mulai menjelek-jelekkan pihak lain di depan sang anak.

Efeknya jelas, sang anak tidak hanya bingung tapi juga terluka melihat pertikaian antara keluarga di sekitarnya. Padahal orang-orang terdekat seperti kakek, paman, dan bibinya adalah figur utama dimata sang anak setelah kedua orang tua mereka. Jika kondisi ini berlarut-larut, kemungkinan besar kelak sang anak akan “membenci” keluarga salah satu pihak, karena dianggap sebagai penyebab dari perceraian orang tua mereka.

Salah Asuh

Seringkali orang tua tunggal sulit untuk mengutarakan dengan baik dan bijak persoalan perceraian mereka kepada anak-anaknya. Selain pertimbangan faktor psikologis mereka secara pribadi pasca perceraian, para orang tua tungal ini kadang juga memiliki ketakutan berlebih atas respon anak-anak mereka saat sang orang tua menjelaskan duduk persoalan dan sebab musabab perceraian mereka berdua.

Ketakutan untuk menyandang predikat “orang tua gagal” ini justru berakibat pada pola asuh yang salah. Mulai dari overprotektif, terlalu membebaskan dan memanja, membebani anak dengan “curhat negatif”, sampai dengan menjadikan anak sebagai sarana eksploitasi. Ini biasanya terjadi karena para orang tua tunggal tersebut “gagal” untuk berdamai dengan persoalan perceraiannya.

Potensi Anak

Seorang anak, dimanapun ia berada, memiliki potensi besar untuk merekatkan keluarga, bahkan yang sudah pecah sekalipun. Tapi sayangnya hal ini jarang disadari oleh banyak orang, anak dalam keluarga yang retak seringkali justru dijadikan tameng atau bahan tawar-menawar antar dua pihak.

Jika mendapat asuhan dan pendidikan yang tepat, anak yang berasal dari keluarga broken home dapat tumbuh menjadi agen yang mampu mempererat silaturahmi kedua belah pihak. Karena bagi sang anak, tidak ada istilah “bekas orang tua”, dan bagi orang tua pun tidak ada istilah “bekas anak”. Tapi jika asuhan dan didikan salah yang ia terima, bukan tidak mungkin silaturahmi antara dua keluarga selamanya akan terputus.

Renungan Bersama

Anak memang akan selalu jadi korban perceraian, tapi bukan lantas karena ia korban kita melimpahkannya dengan kasih sayang berlebihan. Pendekatan dari hati ke hati dilengkapi dengan ketegasan serta bimbingan keagamaan dapat menyelamatkan jiwa sang anak yang tergoncang hebat atas perpisahan orang tua mereka.

Kita sebagai makhluk sosial juga dituntut untuk jauh lebih peka terhadap persoalan anak-anak. Sebagain mungkin ada yang merasa tidak cocok dengan anak-anaknya karena tingkah mereka, tapi ketahuilah bahwa kelembutan hati dan sikap kita kepada mereka mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah SWT.

Janganlah anak-anak kita jauhi karena kenakalannya, mungkin mereka kehilangan bimbingan dan kasih sayang, dan karena keterbatasannya, mereka mengekspresikan diri dengan kenakalan-kenakalan. Jika ada percik-percik konflik dalam keluarga, posisikanlah diri sebagai air yang memadamkan api, dan jangan menjadi kayu bakar yang memanaskan suasana.

Anak-anak adalah generasi penerus, pewaris kita semua kelak. Jika kita abai akan tanggung jawab sosial ini maka apa jadinya masa depan kelak?. Tentu kita masih ingat betapa sayangnya Rasulullah SAW kepada anak-anak, sebagaimana beliau menyayangi Usamah bin Zaid ra, Hasan dan Husein bin Ali ra.

Dari Abu Hurairah RA berkata:
Rasulullah saw menciumi Al Hasan bin Ali, di hadapan Al Aqra’ bin Habis At Tamimiy yang sedang duduk. Lalu Al Aqra’ berkata: Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, dan aku belum pernah menciumi seorang pun. Lalu Rasulullah saw memandanginya dan bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi” (HR. Al Bukhari)

Wallahu a’almu bisshowwab.

(islampos.com)


Aku sudah mulai lelah, usahaku hampir pada titik jenuhnya, namun harapanku belum juga terwujud. Mungkin semua dosa-dosa itu belum sepenuhnya luruh. Atau justru semua usahaku ini penuh dosa? Entahlah..

Ah… Rasanya sudah waktunya duduk manis dan membiarkan upaya yang telah terbuat bersama dengan takdir Tuhan bekerja dengan sendirinya.

Dia tau apa yang terbaik buatku..


credit: www.daveandcharlotte.com

Kapan ya bisa seperti ini.. :’)


Duniaku terhenti..
Sejenak meratap dalam diam
Pertanyakan makna sebuah perjalanan
Ingin meronta, namun lidah tercekat di ujung kata

Ayah Bundaku, buai aku kembali dalam pelukanmu
Ternyata hidup ini keras sekali buatku
Seakan ingin melenggang kembali
Tanpa takut, tanpa dosa
Seperti dulu..


This content is password protected. To view it please enter your password below:

Enter your password to view comments.