blog-nya orang yang males nulis

Monthly Archives: December 2014

Keluarga dan rumah tangga tidak bisa dipungkiri penuh dinamika yang menuntut kesiapan mental dan spiritual. Apalagi jika kita mempertimbangkan pengaruh zaman yang berkembang saat ini. Sala satu dari sekian banyak dinamika keluarga dan rumah tangga adalah perceraian, dengan berbagai macam faktor dan penyebab kita harus prihatin dengan masih tingginya angka perceraian di Indonesia.
-(republika.co.id, 17 agustus 2013).

Dalam maraknya kasus perceraian di negeri ini, perhatian kita seringkali tertuju pada fukos yang salah. Kita lebih sering membahas penyebab daripada akibat, seperti masalah ketidakcocokan, KDRT, perselingkuhan, dan keterbatasan ekonomi. Kita abai terhadap akibat dari perceraian itu sendiri, yaitu persoalan anak.

Stigma Anak Broken Home

Bentukan sosial di sekitar kita telah menempatkan anak dari keluarga yang orang tuanya telah bercerai (brokenhome) dalam posisi yang sulit. Anak dengan luka psikologis karena perceraian orang tua mereka sering distigma dengan cap nakal, kalaupun sang anak belum melakukan kenakalan apapun, stigma itu tetap ada dengan sedikit perubahan yaitu “anak berpotensi nakal”.

Stigma ini sendiri juga sejatinya tidak memiliki dasar yang jelas, semata-mata hanya lahir dari prejudice bahwa keluarga yang tidak utuh tidak akan mampu mendidik anaknya secara baik, sehingga membuat si anak menjadi nakal atau berpotensi nakal. Stigma dan kondisi keluarga yang terpecah ini seolah menekan anak, baik sadar maupun tidak, untuk menjadi nakal.

Anak seolah tidak punya tempat “kembali” ketika ia justru distigma saat mencari “jawaban” diluar keluarga inti yang tidak memberi kejelasan terhadap kegundahaan psikologisnya.

Konflik yang Meluas

Ketika konflik perceraian antara suami-istri ini meluas kedalam keluarga besar masing-masing, sang anak dengan segala keterbatasannya akan semakin kebingungan melihat pertikaian dua kubu ini. Apalagi jika ada salah satu anggota keluarga dari salah satu pihak yang mulai menjelek-jelekkan pihak lain di depan sang anak.

Efeknya jelas, sang anak tidak hanya bingung tapi juga terluka melihat pertikaian antara keluarga di sekitarnya. Padahal orang-orang terdekat seperti kakek, paman, dan bibinya adalah figur utama dimata sang anak setelah kedua orang tua mereka. Jika kondisi ini berlarut-larut, kemungkinan besar kelak sang anak akan “membenci” keluarga salah satu pihak, karena dianggap sebagai penyebab dari perceraian orang tua mereka.

Salah Asuh

Seringkali orang tua tunggal sulit untuk mengutarakan dengan baik dan bijak persoalan perceraian mereka kepada anak-anaknya. Selain pertimbangan faktor psikologis mereka secara pribadi pasca perceraian, para orang tua tungal ini kadang juga memiliki ketakutan berlebih atas respon anak-anak mereka saat sang orang tua menjelaskan duduk persoalan dan sebab musabab perceraian mereka berdua.

Ketakutan untuk menyandang predikat “orang tua gagal” ini justru berakibat pada pola asuh yang salah. Mulai dari overprotektif, terlalu membebaskan dan memanja, membebani anak dengan “curhat negatif”, sampai dengan menjadikan anak sebagai sarana eksploitasi. Ini biasanya terjadi karena para orang tua tunggal tersebut “gagal” untuk berdamai dengan persoalan perceraiannya.

Potensi Anak

Seorang anak, dimanapun ia berada, memiliki potensi besar untuk merekatkan keluarga, bahkan yang sudah pecah sekalipun. Tapi sayangnya hal ini jarang disadari oleh banyak orang, anak dalam keluarga yang retak seringkali justru dijadikan tameng atau bahan tawar-menawar antar dua pihak.

Jika mendapat asuhan dan pendidikan yang tepat, anak yang berasal dari keluarga broken home dapat tumbuh menjadi agen yang mampu mempererat silaturahmi kedua belah pihak. Karena bagi sang anak, tidak ada istilah “bekas orang tua”, dan bagi orang tua pun tidak ada istilah “bekas anak”. Tapi jika asuhan dan didikan salah yang ia terima, bukan tidak mungkin silaturahmi antara dua keluarga selamanya akan terputus.

Renungan Bersama

Anak memang akan selalu jadi korban perceraian, tapi bukan lantas karena ia korban kita melimpahkannya dengan kasih sayang berlebihan. Pendekatan dari hati ke hati dilengkapi dengan ketegasan serta bimbingan keagamaan dapat menyelamatkan jiwa sang anak yang tergoncang hebat atas perpisahan orang tua mereka.

Kita sebagai makhluk sosial juga dituntut untuk jauh lebih peka terhadap persoalan anak-anak. Sebagain mungkin ada yang merasa tidak cocok dengan anak-anaknya karena tingkah mereka, tapi ketahuilah bahwa kelembutan hati dan sikap kita kepada mereka mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah SWT.

Janganlah anak-anak kita jauhi karena kenakalannya, mungkin mereka kehilangan bimbingan dan kasih sayang, dan karena keterbatasannya, mereka mengekspresikan diri dengan kenakalan-kenakalan. Jika ada percik-percik konflik dalam keluarga, posisikanlah diri sebagai air yang memadamkan api, dan jangan menjadi kayu bakar yang memanaskan suasana.

Anak-anak adalah generasi penerus, pewaris kita semua kelak. Jika kita abai akan tanggung jawab sosial ini maka apa jadinya masa depan kelak?. Tentu kita masih ingat betapa sayangnya Rasulullah SAW kepada anak-anak, sebagaimana beliau menyayangi Usamah bin Zaid ra, Hasan dan Husein bin Ali ra.

Dari Abu Hurairah RA berkata:
Rasulullah saw menciumi Al Hasan bin Ali, di hadapan Al Aqra’ bin Habis At Tamimiy yang sedang duduk. Lalu Al Aqra’ berkata: Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, dan aku belum pernah menciumi seorang pun. Lalu Rasulullah saw memandanginya dan bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi” (HR. Al Bukhari)

Wallahu a’almu bisshowwab.

(islampos.com)

Advertisements